Mengulik Kisah Kirani, Wanita dan Kekecewaan
Mengulik Kisah Kirani, Wanita dan Kekecewaan
Abnani Azizah
azizahabnani23@gmail.com
Kirani,
tokoh utama dalam Film ‘Tuhan, Izinkan Aku berdosa’. Adaptasi
dari sebuah novel
karya Muhidin Dahlan berjudul ‘Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur’
Dari
sini muncul keinginan penulis untuk mengulik kisah hidup Kirani, atau biasa
dipanggil Kiran. Mengenai kenapa seorang wanita ini menjadi tokoh yang bisa
dibilang keras kepala dan mungkin beberapa orang menganggap perbuatannya
menyimpang
begitu jauh.
Gambar 1.
Poster Tuhan, Izinkan Aku Berdosa
Sumber :
Instagram Hanung Bramantyo
Pendahuluan
Puji
syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dalam kesempatan
ini mampu mencoba menuliskan kritik pada sebuah Film berjudul ‘Tuhan, Izinkan Aku Berdosa!’, yang disutradarai
oleh Hanung Bramantyo. Tentunya sebelum kritik film ini berlanjut, penulis dengan rendah hati
meminta izin
untuk menilai dari sudut pandang penulis mengenai film tersebut. Apabila ada
kesalahan kata atau kalimat yang tidak berkenan, penulis dengan besar hati
meminta maaf kepada seluruh pihak yang
telah berupaya keras untuk terciptanya film ini.
Sekian, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Kab. Semarang, 16 Agustus 2024
Hormat Penulis
Abnani Azizah
“Memoar Luka Seorang
Muslimah”
Sebelum kritik saya tuliskan, saya telah membaca
novelnya, juga telah menonton film garapan Hanung Bramantyo ini rilis pada
tahun ini, tanggal 22 Mei lalu di bioskop. Untuk mendukung dunia per-filman
Indonesia mari kita apresiasi kerja keras mereka dengan tidak menonton film
bajakan, ya!
Tayang perdana
pada tahun 2023 di Jogja Netpac Asia Film Festival (JAFF) di Empire XXI
Yogyakarta pada 1 Desember 2023. Film besutan Hanung tersebut diberi rating 17+
atau untuk penonton berusia tujuh belas tahun ke atas.
Kisah ini berawal dari seorang mahasiswi bernama Nidah
Kirani, biasa disapa Kiran. Keluarganya berlatar belakang sebagai masyarakat
desa yang sederhana tinggal di kota Salatiga, Jawa Tengah. Sementara Kiran,
saat itu menimba ilmu di kampus yang terletak di kota Yogyakarta.
Sosok Kiran yang diperankan oleh Aghniny Haque, memiliki
paras cantik juga tegas mampu memenuhi ekspektasi penulis tentang Kiran. Gadis
yang mampu membawakan dua sifat yang berbanding jauh satu sama lain dalam satu
orang. Hal itu juga tergambarkan melalui poster film. Terkesan lebih gelap,
tetapi mampu memunculkan rasa penasaran penonton.
Isu sosial yang diangkat oleh Hanung kali ini terkesan
sangat sensitif karena menyangkut suatu kepercayaan agama. Maka dari itu,
penulis rasa rating 17+ itu sudah tepat sasaran pada usia penonton. Namun,
memang jika ditelaah lebih jauh, film ini sebenarnya menjadi pengingat untuk
masyarakat luas, terutama pemuka agama, lebih menjurus pada islam.
Mengingat beberapa kasus ini terjadi dalam lingkungan
pesantren, atau dilakukan oleh pemuka agama yang mengatasnamakan sunah. Poligami
atau menganggap enteng pernikahan siri, padahal meski menikah siri, haruslah
meminta persetujuan dari pihak keluarga wanita, tidak pula ada pemaksaan. Tempat
yang harusnya menjadi wadah untuk menimba ilmu tercoreng oleh oknum keji itu. Menjadi
perhatian untuk orang tua agar lebih terus memantau anaknya yang sedang jauh
dari jangkauan orang tua. Pihak pondok pesantren kiranya juga harus memberikan
fasilitas itu, entah melalui laporan bulanan, melalui ponsel, juga media lain. Kiranya
jika itu membantu akan jauh lebih baik.
Salah satu media mengabarkan hukuman pelaku pelecehan seksual yang dilakukan di pondok pesantren.
Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-59581586
Hal ini juga perlu diperhatikan oleh pihak lembaga hukum
untuk memberikan hukuman yang mampu membuat pelaku jera, dan menjadi pelajaran
pada yang lain, bahwa hal seperti ini akan ditindak dengan tegas. Menciptakan lingkungan
aman bagi wanita dari para lelaki cabul.
Kemudian isu mengenai sebuah lembaga yang ingin
mendirikan agama yang berlandaskan pada agama islam atau biasa disebut Negara
Khalifah. Pada saat itu yang tengah memanas, menarik perhatian Kiran, gadis
yang digambarkan sebagai seorang yang polos tetapi haus akan ilmu. Dengan manipulasi
itulah yang menarik dirinya pada banyak hal.
Menjadi poin yang dapat kita ambil, bahwa kita tetap
harus menilai dari banyak hal. Contohnya kita hidup di negara hukum yang
berideologi Pancasila. Juga memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika,
berbeda-beda, tetapi tetap satu jua, disini kita harus menghargai kepercayaan
orang lain dan tidak memaksakannya. Seperti Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah
; 256.
Salah satu contoh gerakan tersebut pernah eksis di
Indonesia, mereka mendirikan partai politik bernama Hizbut Tahrir Indonesia.
Dalam film Haque, terlihat sangat mendalami perannya ketika berada di lembaga
kajian yang mungkin serupa dengan HTI, dengan perjuangan dakwahnya juga dengan setting pakaian serta tempat yang
mendukung. Pakaian panjang yang menutupi tubuhnya, dikatakan Haque juga diminta
untuk belajar membaca Al-Qur’an.
Pemilihan tempat dan penataan properti dilakukan dengan
baik. Terlihat saat Kiran memakai ponsel jadul
juga motor sederhana milik Daarul, rumah Ami, kampus, dan losmen. Semuanya
terasa membawa penonton pada tahun penerbitan dari novelnya. Efek suara,
pencahayaan, dan pemilihan tokoh terasa sangat memuaskan penonton. Meski dibawakan
dengan alur maju-mundur yang terkesan membuatnya sedikit susah dipahami,
mungkin ini sisi daya tarik dari film tersebut. Hanung membawa kita menebak
scene apa yang akan terjadi selanjutnya.
Begitu juga ditambah penampilan epic dari Nikita
Mirzani sebagai penjaga losmen yang tampak menggoda, dan Keanu Angelo sebagai
banci salon. Lengkap dengan dandanan ala perempuan. Dua bintang tamu spesial
ini mampu menambah pendalaman mengenai film ini yang bersinggungan dengan dunia
malam.
Para pemain begitu mendalami peran masing-masing,
penulis juga yakin bahwa mereka dengan kerja keras memahami wataknya dalam
film. Sehingga dialog juga gerakannya terlihat tidak kaku dan mengalir seperti
kita ikut berada dalam posisi seorang Kiran. Bagaimana dia memerankan Kiran,
saat rasa kecewa, marah, lelah, dan muak.
Emosi dari Haque benar-benar membawa kita, khususnya
ke dalam rasa kekecewaan yang begitu mendalam dimana orang-orang terdekatnya
telah melukai kepercayaannya. Bahkan Tuhan memberikan ujian yang berat padanya.
Memang apa yang kita anggap baik, belum tentu baik, bagaimanapun manusia bisa
berubah kapan saja.
Itulah manusia, kita diciptakan untuk mendapat
ujiannya sebelum bisa bertemu kembali di hadapan Allah nantinya. Tetapi iman
manusia tidaklah selalu stabil. Dia bisa naik, maupun turun. Ini terbukti
bagaimana perubahan Kiran yang awalnya adalah seorang mahasiswi yang taat
beribadah, menjalankan seluruh perintah Allah, kemudian terjerumus pada dunia
yang sangat mengerikan. Namun, hal ini lumrah terjadi, apalagi berkaitan dengan
kepercayaan yang rasanya tengah diuji. Kiran menjelma menjadi wanita bak iblis
yang mempertaruhkan tubuhnya untuk membuktikan bahwa lelaki tidak lebih dari
seekor binatang dengan hawa nafsu meliputi selangkangan dan kenikmatan sesaat.
Bahkan ketika seorang yang dianggap paham akan hukum agama juga melakukan itu,
lantas lelaki macam apa yang mampu kita berikan rasa kepercayaan itu?
“…aku
menjadi pelacur eksekutif dan akan menemui para pejabat yang tidur di
hotel-hotel. Terima kasih pak Tomo atas informasinya. Aku baru tahu sisi
berengsek para
wakil rakyat, dari fraksi apa
saja—sekuleris, anasionalis, bahkan agamis. Dunia ini memang sudah rusak, sudah
dipenuhi oleh pendusta rakyat dan pendusta agama”
Menjadi pelacur bukanlah hal baik, tetapi ketika kita
kehilangan arah, rasanya memang seliar ini. Apalagi wanita, lebih mengutamakan perasaan.
Terbukti dari studi tentang pentingnya peran ayah dalam kehidupan anak. Ini mungkin
sepele, tapi bisa kita lihat saat pemikiran Kiran saat ada ayahnya dan saat
tidak ada. Kemudian bagaimana lingkungan mempengaruhi kehidupan. Terkadang kita
bertemu orang baik, tapi dilain waktu bertemu orang yang tersesat. Tersesat disini
mempunyai makna manusia yang sedang kebingungan mencari jati diri atau tersesat
dalam kemaksiatan.
Maka ketika dia dikuasai dendam, apapun akan
dilakukan. Meskipun itu perbuatan tercela. Terlihat kekecewaan yang menguasai
Kiran kini berubah menjadi dendam pada para pendusta berkedok agama.
Ketika perjalanan Kiran yang katanya ingin membuktikan
pada Tuhan bahwa dia bisa berdiri dengan kakinya sendiri, dan bahwa lelaki
adalah makhluk menjijikkan! Setelah perjalanan mendebarkan ketika dia dikejar
germonya, juga salah satu penikmat tubuhnya yang marah akan aksi Kiran hingga
ia harus berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Satu per satu orang yang
dianggapnya terdekat dipanggil oleh Sang Kuasa.
Ayahnya, lalu Mba Ami. Orang yang selalu menolongnya. Sebuah momen epik sekaligus cukup membuat penulis terpesona adalah ketika Kiran mendapat penyiksaan yang begitu mengerikan.
Gambar 2. Kiran yang
sedang disiksa.
Sumber : Instagram
Aghniny Haque
Dari scene ini mampu memberikan pandangan pada kita
kaum hawa, bahwa menjadi pelacur bukanlah hal yang baik, meskipun kamu
mendapatkan bayaran yang melimpah. Hidup dengan kekayaan tidak menjamin kebahagiaan.
Layaknya sebuah tikus yang dikejar ular, dengan
instingnya yang tajam, Kiran akhirnya harus beradu dengan germonya sendiri yang
merasa kecewa karena Kiran telah menolak apa yang dia mau.
Pertarungan antara Kiran dan germonya juga tampak
sangat nyata. Visual terlihat alami, bahkan ketika Kiran berada di kursi
penyiksaan. Haque selaku pemeran Kiran mengakui bahwa dia merasakan sakitnya
demi film ini. Tulisnya dalam postingan instagram miliknya.
Kembali, penonton disuguhkan adegan Kiran yang
terguling jatuh dari atas dataran tinggi. Nampak tidak ada efek edit sama
sekali. Seperti murni terjadi. Puncak perjalanan Kiran terjawab sudah. Ketika
seolah ayahnya datang menghampiri lalu memberinya wejangan.
“Oh Tuhan, izinkan aku mencintai-Mu dengan cara yang
lain, menerima kehidupan dengan sepenuh kejujuran. Seperti gemericik air di
pematang sawah, serupa cicit-cicit cericit burung yang bercendai diselimuti
induknya karena alam telah mengajariku untuk menerima setiap lembaran kasih-Mu.
Aku tak punya apa-apa selain hati yang akan selalu menunggu sapa-Mu. Sapa yang
gelap dan terkutuk di kala aku terjaga dari tidurku, di kala sang waktu memalak
usiaku terus-menerus hingga aku terlelap dalam penyerahan sempurna, dalam
pelukan bumi.”
Pencipta novel menciptakan tokoh wanita yang kuat,
tidak bergantung dengan apapun, dia berani menjalani kehidupan berat sendiri.
Tuhan memang membenci pendosa, tetapi Tuhan mencintai hamba-Nya yang bertaubat.
Film ditutup dengan aksi epik Kiran. Wanita yang kerap kali direndahkan, juga lemah, kini dia buktikan dia mampu
menjadi malaikat maut seseorang sebelum kembali ke pelukan bumi, dengan tubuh
lemah yang sudah memilih jalan cintanya pada Tuhan dengan cara diam, dan cinta
yang tidak mengharap imbalan baik itu surga atau neraka. Kiran adalah pion Sang
Kuasa, pada akhirnya dia tak bisa menolak hal mutlak itu.
Demikian penilaian yang dapat penulis sampaikan
melalui pandangan penulis setelah menonton film tersebut. Sekali lagi apabila
ada salah kata, hanya maaf yang mampu penulis sampaikan. Sampai jumpa di
kesempatan lain!



Komentar
Posting Komentar