Mengulik Kisah Kirani, Wanita dan Kekecewaan

 

Mengulik Kisah Kirani, Wanita dan Kekecewaan

Abnani Azizah

azizahabnani23@gmail.com

 

Kirani, tokoh utama dalam Film ‘Tuhan, Izinkan Aku berdosa’.  Adaptasi dari sebuah novel karya Muhidin Dahlan berjudul ‘Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur’ (Muhidin M Dahlan, 2005) yang menuai kontroversi akibat tindakannya yang dinilai menghina agama, pembangkangan, pemberontakan, juga tindakan asusila.

Dari sini muncul keinginan penulis untuk mengulik kisah hidup Kirani, atau biasa dipanggil Kiran. Mengenai kenapa seorang wanita ini menjadi tokoh yang bisa dibilang keras kepala dan mungkin beberapa orang menganggap perbuatannya menyimpang begitu jauh.

Gambar 1. Poster Tuhan, Izinkan Aku Berdosa

Sumber : Instagram Hanung Bramantyo

 

Pendahuluan

Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dalam kesempatan ini mampu mencoba menuliskan kritik pada sebuah Film berjudul ‘Tuhan, Izinkan Aku Berdosa!’, yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Tentunya sebelum kritik film ini berlanjut, penulis dengan rendah hati meminta izin untuk menilai dari sudut pandang penulis mengenai film tersebut. Apabila ada kesalahan kata atau kalimat yang tidak berkenan, penulis dengan besar hati meminta maaf kepada seluruh pihak yang telah berupaya keras untuk terciptanya film ini.

Sekian, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kab. Semarang, 16 Agustus 2024

Hormat Penulis

 

Abnani Azizah




Memoar Luka Seorang Muslimah”

Sebelum kritik saya tuliskan, saya telah membaca novelnya, juga telah menonton film garapan Hanung Bramantyo ini rilis pada tahun ini, tanggal 22 Mei lalu di bioskop. Untuk mendukung dunia per-filman Indonesia mari kita apresiasi kerja keras mereka dengan tidak menonton film bajakan, ya!

 Tayang perdana pada tahun 2023 di Jogja Netpac Asia Film Festival (JAFF) di Empire XXI Yogyakarta pada 1 Desember 2023. Film besutan Hanung tersebut diberi rating 17+ atau untuk penonton berusia tujuh belas tahun ke atas.

Kisah ini berawal dari seorang mahasiswi bernama Nidah Kirani, biasa disapa Kiran. Keluarganya berlatar belakang sebagai masyarakat desa yang sederhana tinggal di kota Salatiga, Jawa Tengah. Sementara Kiran, saat itu menimba ilmu di kampus yang terletak di kota Yogyakarta.

Sosok Kiran yang diperankan oleh Aghniny Haque, memiliki paras cantik juga tegas mampu memenuhi ekspektasi penulis tentang Kiran. Gadis yang mampu membawakan dua sifat yang berbanding jauh satu sama lain dalam satu orang. Hal itu juga tergambarkan melalui poster film. Terkesan lebih gelap, tetapi mampu memunculkan rasa penasaran penonton.

Isu sosial yang diangkat oleh Hanung kali ini terkesan sangat sensitif karena menyangkut suatu kepercayaan agama. Maka dari itu, penulis rasa rating 17+ itu sudah tepat sasaran pada usia penonton. Namun, memang jika ditelaah lebih jauh, film ini sebenarnya menjadi pengingat untuk masyarakat luas, terutama pemuka agama, lebih menjurus pada islam.

Mengingat beberapa kasus ini terjadi dalam lingkungan pesantren, atau dilakukan oleh pemuka agama yang mengatasnamakan sunah. Poligami atau menganggap enteng pernikahan siri, padahal meski menikah siri, haruslah meminta persetujuan dari pihak keluarga wanita, tidak pula ada pemaksaan. Tempat yang harusnya menjadi wadah untuk menimba ilmu tercoreng oleh oknum keji itu. Menjadi perhatian untuk orang tua agar lebih terus memantau anaknya yang sedang jauh dari jangkauan orang tua. Pihak pondok pesantren kiranya juga harus memberikan fasilitas itu, entah melalui laporan bulanan, melalui ponsel, juga media lain. Kiranya jika itu membantu akan jauh lebih baik.

Salah satu media mengabarkan hukuman pelaku pelecehan seksual yang dilakukan di pondok pesantren.

                                                                    


Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-59581586

 

 




 

Hal ini juga perlu diperhatikan oleh pihak lembaga hukum untuk memberikan hukuman yang mampu membuat pelaku jera, dan menjadi pelajaran pada yang lain, bahwa hal seperti ini akan ditindak dengan tegas. Menciptakan lingkungan aman bagi wanita dari para lelaki cabul.

Kemudian isu mengenai sebuah lembaga yang ingin mendirikan agama yang berlandaskan pada agama islam atau biasa disebut Negara Khalifah. Pada saat itu yang tengah memanas, menarik perhatian Kiran, gadis yang digambarkan sebagai seorang yang polos tetapi haus akan ilmu. Dengan manipulasi itulah yang menarik dirinya pada banyak hal.

Menjadi poin yang dapat kita ambil, bahwa kita tetap harus menilai dari banyak hal. Contohnya kita hidup di negara hukum yang berideologi Pancasila. Juga memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda, tetapi tetap satu jua, disini kita harus menghargai kepercayaan orang lain dan tidak memaksakannya. Seperti Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ; 256.

Salah satu contoh gerakan tersebut pernah eksis di Indonesia, mereka mendirikan partai politik bernama Hizbut Tahrir Indonesia. Dalam film Haque, terlihat sangat mendalami perannya ketika berada di lembaga kajian yang mungkin serupa dengan HTI, dengan perjuangan dakwahnya juga dengan setting pakaian serta tempat yang mendukung. Pakaian panjang yang menutupi tubuhnya, dikatakan Haque juga diminta untuk belajar membaca Al-Qur’an.

Pemilihan tempat dan penataan properti dilakukan dengan baik. Terlihat saat Kiran memakai ponsel jadul juga motor sederhana milik Daarul, rumah Ami, kampus, dan losmen. Semuanya terasa membawa penonton pada tahun penerbitan dari novelnya. Efek suara, pencahayaan, dan pemilihan tokoh terasa sangat memuaskan penonton. Meski dibawakan dengan alur maju-mundur yang terkesan membuatnya sedikit susah dipahami, mungkin ini sisi daya tarik dari film tersebut. Hanung membawa kita menebak scene apa yang akan terjadi selanjutnya.

Begitu juga ditambah penampilan epic dari Nikita Mirzani sebagai penjaga losmen yang tampak menggoda, dan Keanu Angelo sebagai banci salon. Lengkap dengan dandanan ala perempuan. Dua bintang tamu spesial ini mampu menambah pendalaman mengenai film ini yang bersinggungan dengan dunia malam.

Para pemain begitu mendalami peran masing-masing, penulis juga yakin bahwa mereka dengan kerja keras memahami wataknya dalam film. Sehingga dialog juga gerakannya terlihat tidak kaku dan mengalir seperti kita ikut berada dalam posisi seorang Kiran. Bagaimana dia memerankan Kiran, saat rasa kecewa, marah, lelah, dan muak.

Emosi dari Haque benar-benar membawa kita, khususnya ke dalam rasa kekecewaan yang begitu mendalam dimana orang-orang terdekatnya telah melukai kepercayaannya. Bahkan Tuhan memberikan ujian yang berat padanya. Memang apa yang kita anggap baik, belum tentu baik, bagaimanapun manusia bisa berubah kapan saja.

Itulah manusia, kita diciptakan untuk mendapat ujiannya sebelum bisa bertemu kembali di hadapan Allah nantinya. Tetapi iman manusia tidaklah selalu stabil. Dia bisa naik, maupun turun. Ini terbukti bagaimana perubahan Kiran yang awalnya adalah seorang mahasiswi yang taat beribadah, menjalankan seluruh perintah Allah, kemudian terjerumus pada dunia yang sangat mengerikan. Namun, hal ini lumrah terjadi, apalagi berkaitan dengan kepercayaan yang rasanya tengah diuji. Kiran menjelma menjadi wanita bak iblis yang mempertaruhkan tubuhnya untuk membuktikan bahwa lelaki tidak lebih dari seekor binatang dengan hawa nafsu meliputi selangkangan dan kenikmatan sesaat. Bahkan ketika seorang yang dianggap paham akan hukum agama juga melakukan itu, lantas lelaki macam apa yang mampu kita berikan rasa kepercayaan itu?

…aku menjadi pelacur eksekutif dan akan menemui para pejabat yang tidur di hotel-hotel. Terima kasih pak Tomo atas informasinya. Aku baru tahu sisi berengsek para wakil rakyat, dari fraksi apa saja—sekuleris, anasionalis, bahkan agamis. Dunia ini memang sudah rusak, sudah dipenuhi oleh pendusta rakyat dan pendusta agama (Muhidin M Dahlan, 2005).

Menjadi pelacur bukanlah hal baik, tetapi ketika kita kehilangan arah, rasanya memang seliar ini. Apalagi wanita, lebih mengutamakan perasaan. Terbukti dari studi tentang pentingnya peran ayah dalam kehidupan anak. Ini mungkin sepele, tapi bisa kita lihat saat pemikiran Kiran saat ada ayahnya dan saat tidak ada. Kemudian bagaimana lingkungan mempengaruhi kehidupan. Terkadang kita bertemu orang baik, tapi dilain waktu bertemu orang yang tersesat. Tersesat disini mempunyai makna manusia yang sedang kebingungan mencari jati diri atau tersesat dalam kemaksiatan.

Maka ketika dia dikuasai dendam, apapun akan dilakukan. Meskipun itu perbuatan tercela. Terlihat kekecewaan yang menguasai Kiran kini berubah menjadi dendam pada para pendusta berkedok agama.

Ketika perjalanan Kiran yang katanya ingin membuktikan pada Tuhan bahwa dia bisa berdiri dengan kakinya sendiri, dan bahwa lelaki adalah makhluk menjijikkan! Setelah perjalanan mendebarkan ketika dia dikejar germonya, juga salah satu penikmat tubuhnya yang marah akan aksi Kiran hingga ia harus berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Satu per satu orang yang dianggapnya terdekat dipanggil oleh Sang Kuasa.

Ayahnya, lalu Mba Ami. Orang yang selalu menolongnya. Sebuah momen epik sekaligus cukup membuat penulis terpesona adalah ketika Kiran mendapat penyiksaan yang begitu mengerikan.



Gambar 2. Kiran yang sedang disiksa.

Sumber : Instagram Aghniny Haque

 

Dari scene ini mampu memberikan pandangan pada kita kaum hawa, bahwa menjadi pelacur bukanlah hal yang baik, meskipun kamu mendapatkan bayaran yang melimpah. Hidup dengan kekayaan tidak  menjamin kebahagiaan.

Layaknya sebuah tikus yang dikejar ular, dengan instingnya yang tajam, Kiran akhirnya harus beradu dengan germonya sendiri yang merasa kecewa karena Kiran telah menolak apa yang dia mau.

Pertarungan antara Kiran dan germonya juga tampak sangat nyata. Visual terlihat alami, bahkan ketika Kiran berada di kursi penyiksaan. Haque selaku pemeran Kiran mengakui bahwa dia merasakan sakitnya demi film ini. Tulisnya dalam postingan instagram miliknya.

Kembali, penonton disuguhkan adegan Kiran yang terguling jatuh dari atas dataran tinggi. Nampak tidak ada efek edit sama sekali. Seperti murni terjadi. Puncak perjalanan Kiran terjawab sudah. Ketika seolah ayahnya datang menghampiri lalu memberinya wejangan.

“Oh Tuhan, izinkan aku mencintai-Mu dengan cara yang lain, menerima kehidupan dengan sepenuh kejujuran. Seperti gemericik air di pematang sawah, serupa cicit-cicit cericit burung yang bercendai diselimuti induknya karena alam telah mengajariku untuk menerima setiap lembaran kasih-Mu. Aku tak punya apa-apa selain hati yang akan selalu menunggu sapa-Mu. Sapa yang gelap dan terkutuk di kala aku terjaga dari tidurku, di kala sang waktu memalak usiaku terus-menerus hingga aku terlelap dalam penyerahan sempurna, dalam pelukan bumi.” (Muhidin M Dahlan, 2005).

Pencipta novel menciptakan tokoh wanita yang kuat, tidak bergantung dengan apapun, dia berani menjalani kehidupan berat sendiri. Tuhan memang membenci pendosa, tetapi Tuhan mencintai hamba-Nya yang bertaubat. Film ditutup dengan aksi epik Kiran. Wanita yang kerap kali direndahkan,  juga lemah, kini dia buktikan dia mampu menjadi malaikat maut seseorang sebelum kembali ke pelukan bumi, dengan tubuh lemah yang sudah memilih jalan cintanya pada Tuhan dengan cara diam, dan cinta yang tidak mengharap imbalan baik itu surga atau neraka. Kiran adalah pion Sang Kuasa, pada akhirnya dia tak bisa menolak hal mutlak itu.

 

Demikian penilaian yang dapat penulis sampaikan melalui pandangan penulis setelah menonton film tersebut. Sekali lagi apabila ada salah kata, hanya maaf yang mampu penulis sampaikan. Sampai jumpa di kesempatan lain!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ipar Adalah Maut, Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Ipar?

Habibie & Ainun 3, Biografi yang Menarik Perhatian Generasi Muda