Habibie & Ainun 3, Biografi yang Menarik Perhatian Generasi Muda

 

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah, dalam kesempatan ini Penulis mampu menemukan sebuah film biografi dari seorang tokoh wanita hebat. Hasri Ainun Bestari, ibu negara Indonesia yang ketiga, istri dari Bacharudin Jusuf Habibie. Kini keduanya sudah bertemu dalam dimensi keabadian, Aamiin.

Habibie & Ainun 3, prekuel dari film Habibie & Ainun sekaligus kelanjutan dari Rudy Habibie. Jika Rudy Habibie menceritakan kisah muda Habibie, maka Habibie & Ainun adalah kisah muda dari Ainun.


Official poster dari filmnya. Kemudian rilis pertama kali di bioskop pada tanggal 19 Desember di Indonesia lalu pada tanggal 26 Desember rilis di Malaysia. Bertepatan dengan ulang tahun Maudy, 19 Desember, selaku pemeran utama wanita.

Dalam poster, ada beberapa potongan bagian dari film yang menjelaskan secara singkat, tetapi tidak detail. Dengan ini mampu menarik rasa penasaran penonton.

Sepertinya dalam film ini, Hanung banyak mengajak pemain muda untuk bergabung, seperti Rebecca Klopper, Jennifer Coppen, dan beberapa yang lain. Dalam hal ini lebih memberikan peran pada para pemuda, sekaligus memperkuat setting masa muda Ainun.

Film garapan Hanung Bramantyo ini sukses masuk dalam deretan film terlaris. Lagi-lagi, Hanung dengan pengalamannya mampu menciptakan sebuah film yang memukau. Apalagi Penulis memang mengidolakan sosok keluarga dari Eyang Habibie. Maka saat melihat dari film pertamanya sudah jatuh cinta.

Film yang rilis bertepatan dengan ulang tahun Maudy Ayunda ini masih bisa kalian saksikan di aplikasi Netflix dan Prime Video.

Dalam film kali ini, cast Bunga Citra Lestari digantikan oleh Maudy. Karena menggambarkan Ibu Ainun semasa SMA, selain itu, dengan kemampuan Maudy, dia juga memiliki nilai kehidupan yang sama dengan Ibu Ainun. Wanita yang berambisi dalam menuntut ilmu.

Reza Rahardian kembali memerankan Habibie. Bersumber dari Wikipedia, efek visual CGI sangat diperlukan untuk membuat Reza terlihat muda seperti anak SMA. Menjadi tantangan baru untuknya karena memerankan dua masa, masa muda dan masa tuanya. Proses ini diakui oleh Hanung memerlukan waktu enam jam untuk mendapatkan postur yang sesuai. Alih-alih menggunakan jasa dari luar negeri, semua pengerjaannya dibantu oleh anak-anak bangsa Indonesia sendiri.

Film diawali dengan scene Eyang Habibie sedang mengunjungi makam istri tercinta beliau. Di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Dalam film ini mengambil dua daerah untuk pengerjaannya. Pertama, berlatar di kota Yogyakarta, yaitu Rumah Ainun di Studio Alam Gamplong. Sengaja didirikan oleh Hanung untuk set lokasi film berlatar waktu 1600-1900. Dalam studio itu penuh dengan barang-barang antik, menggunakan kayu untuk bagian rumah sehingga menimbulkan efek vintage dan old. Untuk alur dalam film, Penulis lebih condong ke alur mundur, atau menceritakan masa lalu. Silakan koreksi kalau salah.

Lalu, latar kedua adalah Jakarta, pemukiman tempat Ibu Ainun melaksanakan Kuliah Kerja Nyata.

Dalam kesedihan Almarhum Habibie, cucu-cucunya meminta beliau untuk menceritakan pertemuan dengan Almarhumah Ibu Ainun. Dulu, keduanya bersekolah di SMA Kristen Dago. Kembali, sebutan untuk Ibu Ainun masuk dalam dialog. Hitam, jelek, seperti gula jawa. Bagian ini masih sama pada film pertama, menjadi sebuah kalimat yang memiliki makna bagi Habibie dan Ainun, sebuah kenangan.

Namun, dalam film ini terkesan lebih detail mengenai masa muda Ainun. Tentu tentang perjuangan Ibu Ainun. Sebuah adegan paling berkesan menurut Penulis adalah ketika Ainun kecil pada masa penjajahan Jepang yang tengah membantu ibunya membantu proses melahirkan. Ainun tidak takut sama sekali, meski pada saat itu dia tengah mengungsi di Kota Sadeng pada tahun 1944 dan berada dalam tekanan penjajahan dari Jepang.

Ketika Ainun kecil bersenandung dalam bahasa Jawa untuk menenangkan wanita yang sedang dalam proses melahirkan. ‘Tak lelo, lelo, lelo ledung, duh cah ayu ojo nangis wae.... ‘

Sebenarnya bagian ini terkesan menegangkan, mengingat Indonesia kala itu belum merdeka. Tetapi, dengan sebuah dialog lucu yang berhasil mencairkan suasana. Persalinan berjalan lancar berkat bantuan Ainun kecil.

Dalam semua bagian film, setting pakaian yang sangat mencolok. Kebaya tradisional yang memang dikenakan pada era itu sangat pas. Bahkan, Penulis sampai mencocokkan dengan foto keluarga Penulis sendiri. Sama!

Bambu runcing, senjata Indonesia untuk melawan penjajah, rumah yang masih terbuat dari anyaman bambu, lampu teplok, benar-benar menyerupai kisah abad itu, yang sering diceritakan oleh nenek Penulis.

Kemudian penggunaan Bahasa Indonesia yang baik. Formal, tetapi para cast mampu membawakannya dengan luwes.

Setelah beberapa waktu, kabar Jepang yang telah menyerah pada sekutu akibat bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki memukul Jepang dari Indonesia, dan Indonesia secara resmi mengumumkan kemerdekaannya.

Bahkan untuk tambahan scene saat bom meledak cukup meyakinkan. Entah ini sebuah dokumenter asli atau efek visual yang dibuat, tetapi bagus!

Ainun mulai menjelaskan keinginannya untuk menjadi seorang dokter, meski sang ibunda agak sedikit khawatir sampai menawarkan untuk menjadi bidan. Tetapi, Ainun dengan lantang dan percaya diri untuk tetap memilih dokter. Membantu wanita dan anak-anak untuk mendapatkan kesehatan.

Mulai memasuki scene masa SMA, rupanya juga menemukan jodohnya dari sini. Dalam sebuah pertandingan kasti, Jennifer yang berperan menjadi Dina, sahabat Ainun mengalami cedera sehingga tidak bisa melanjutkan permainan. Kepahaman Ainun mengenai pengobatan rupanya sudah tertanam dengan baik. Dengan berani, Ainun melanjutkan permainan dan membawanya pada dua poin sehingga mengalahkan tim lawan.

Pada bagian ini, setting tempat yang digunakan masih terlihat seperti tempo dulu. Beberapa brosur Masyumi, sebuah partai politik islam kala itu banyak menempel pada dinding yang catnya sudah mengelupas. Beberapa tulisan vandalisme, mobil antik, lalu kendaraan umum masih menggunakan becak. Meski sekarang masih ada becak, tapi pada kala itu sepertinya becak masih menjadi transportasi umum.

Kala itu, Ainun benar-benar merasa sedikit sedih belum juga mendapat jawaban dari Universitas Indonesia mengenai lanjutan studinya. Namun, dengan keahlian Ainun dan kepandaiannya UI sudah menerimanya, surat pernyataan itu dibawa oleh kakak lelakinya.

Dalam sebuah acara perpisahan SMAK Dago, dirayakan dengan meriah. Mengundang grup musik yang menggunakan alat musik klasik. Kesempatan ini membawa Ainun dan Habibie muda bertemu dan berbincang. Keduanya memiliki mimpi yang sama, dalam scene ini terlihat ada kecocokan mereka.

Mari kita telusuri setting bagian ini. Pertama, Penulis terfokus pada gaya rambut beberapa murid wanita yang memang tren ditahun itu, dengan gaun warna-warni meriah. Masih ada juga beberapa wanita yang terbilang sudah sepuh mengenakan kebaya tradisional.

Setelah pertemuan itu, Habibie menjelaskan pada Ainun, bahwa dari hal kecillah yang akan membawanya pada suatu keberhasilan. Eyang Habibie lalu menjelaskan, keduanya tidak bertemu lagi setelah peristiwa itu. Habibie terbang ke Jerman untuk mengejar mimpinya, tanpa beasiswa dari negara. Karena beliau sudah dibiayai oleh ibunya, dan ia rasa ada orang yang lebih membutuhkan beasiswa itu.

Perploncoan kala itu sangat kental. Senioritas masih melekat, terutama pada beberapa lelaki di fakultas Ainun. Penggunaan tempatnya bagus, tetapi bagian luar kampus terlihat mewah, tidak seperti yang tersebar dalam internet. Namun, suasana dalam kelas masih sangat mendukung.

Dalam masa pendidikan Ainun untuk menjadi seorang dokter, dipenuhi hal-hal baru dan berbeda. Menjadi pusat perhatian mahasiswa lelaki yang terpana akan paras beliau. Namun, Penulis rasa tidak hanya paras, beliau memiliki sifat merendah, tidak sombong, dan begitu halus.

Sebuah pohon yang berbuah justru akan mendapat banyak lemparan. Bagai kisah Ainun muda yang diremehkan oleh beberapa orang. Karena beliau seorang wanita, apalagi pada masa itu masih memegang stigma bahwa tempat wanita tidak perlu tinggi. Perundungan yang dilakukan oleh kakak tingkatnya, membuat Ainun sama sekali tidak takut. Tujuannya hanya satu kala itu. Menjadi orang berguna yang ikut membangun Indonesia sebagai negara yang masih muda.

Kisah muda erat kaitannya dengan sebuah cinta. Ternyata sosok Ainun memiliki mantan yang selalu menghargai dan memandang Ainun adalah wanita yang pantas. Ahmad, mahasiswa fakultas hukum, kebetulan juga dia adalah putra dari Profesor yang mengajar Ainun.

Pada bagian ini, ada beberapa properti yang menarik. Pasalnya, kedokteran selalu membawa kadaver, atau mayat yang diawetkan untuk pembelajaran mahasiswa dalam memahami anatomi tubuh manusia. Apakah ini kadaver asli? Namun, dilihat di film sangat mirip.

Sayangnya, Ainun dan Ahmad memiliki tujuan yang berbeda. Ahmad ingin membawa Ainun pada keamanan, di mana dia akan dihargai dan tidak dilukai. Namun, Ainun ingin tetap berada di negara yang baru beberapa saat merdeka, membantu memajukan bangsa. Ya, mungkin keadaan pada saat itu memang belum kondusif sepenuhnya. Terlihat pada scene Ainun akan dilecehkan preman. Seperti pesan Eyang Habibie, “Kamu jungkirbalikpun, kalau saya jodohnya, saya yang akan menikah dengannya.”

Semasa bersama Ahmad, Ainun diperlakukan dengan baik. Mengelilingi kota, mengabdi pada masyarakat, bahkan Ahmad melamar Ainun dengan cara yang lebih romantis dari Eyang Habibie.

Namun, Ainun yang kala itu dirundung perasaan bersalah sebab tidak bisa menyelamatkan nyawa seorang anak membuatnya kembali ke kediaman untuk bertemu ayahnya. Pada bagian ini, terlihat peran seorang ayah berpengaruh dalam kehidupan anak. Lalu, dokter hanyalah manusia. Tidak bisa memberi putusan untuk menghidupkan manusia. Semua itu Kuasa Tuhan.

Setelah perjalanan panjang, Ainun menjadi lulusan terbaik dari Universitas Indonesia dari fakultas kedokteran. Memberikan sedikit pidato, bahwa tidak peduli apa jenis kelamin, siapapun berhak dan bisa membantu kemajuan negara ini.

Setelah kelulusan itu, Ainun yang tengah duduk di sebuah posko kesehatan didatangi oleh Habibie yang memuji, “Sekarang gula jawa sudah berubah jadi gula pasir.”

Pada film ini diakhiri dengan pengungkapan cinta Habibie, tetapi ini berbeda dengan versi dari Habibie, dan film Habibie Ainun yang pertama. Ainun dilamar oleh Habibie di atas becak. Sementara pada film ini tidak ada bagian itu. Namun, tetap berkesan dan memukau.

Film ditutup dengan beberapa foto asli dari Habibie dan Ainun, foto pernikahan, keluarga, masa muda. Juga sebuah video bersama Najwa Shihab, yang mengatakan bahwa Eyang Habibie takut meninggal lebih dulu dari Eyang Ainun, siapa yang akan menjaganya 24 jam? Dengan ost yang dinyanyikan pula oleh Maudy Ayunda. ‘Kamu dan Kenangan'. Dalam informasi, lagu ini diciptakan oleh Melly Goeslaw.

Dalam kesimpulan Penulis setelah menonton film ini selain ilmu yang diberikan, Penulis terkesan karena film ini dibawakan dengan bagus dan menarik, bukan hanya di kalangan para pemerhati sejarah, tetapi juga generasi muda. Akan menjadi hal yang sangat positif jika mereka bisa mengambil pendidikan yang diberikan dari film ini.

Akhir kata, Penulis mengucapkan terima kasih sekaligus maaf apabila ada kesalahan kata. Kisah cinta suci dan murni, semoga abadi, dan kita semua mampu menemukannya. Al-fatihah untuk Eyang Habibie dan Eyang Putri Ainun. Terima kasih atas jasa kalian.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ipar Adalah Maut, Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Ipar?

Mengulik Kisah Kirani, Wanita dan Kekecewaan