Ipar Adalah Maut, Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Ipar?

Pendahuluan

Pertama-tama, sebagai pembuka dari kritik film kali ini, Penulis mengucapkan rasa Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga munculah blog pribadi saya. Kemudian, Penulis masih dalam tahap belajar. Jadi, ini adalah kritik murni dari pemikiran saya, juga kepada pihak yang sekiranya termasuk dalam pembuatan film, Penulis memohon izin untuk membagikan pengalaman saat menontonnya.

Kali ini Penulis akan mengkritik sebuah film dari kisah nyata yang pertama kali diunggah pada platform tiktok oleh story teller Elizasifaa. Film garapan MD Pictures, disutradarai oleh Hanung Bramantyo. “Ipar Adalah Maut”. 

Kisah perselingkuhan memang sangat fatal, menimbulkan keretakan dalam sebuah hubungan. Ketika memergoki kasus seperti ini pasti akan membuat emosi naik, begitu pula dengan film yang berhasil membuat para penonton merasakan kejengkelan. Ya, “Ipar Adalah Maut”, film yang rilis pada tanggal 13 Juni 2024 di Indonesia, tak hanya di negara sendiri, bahkan film ini juga ditayangkan di Malaysia, Singapura, dan Brunei pada tanggal 20 Juni 2024.

Bahkan pertanggal 26 Agustus 2024, film garapan Hanung ini masih menduduki peringkat ke-10 sebagai film terlaris sepanjang masa.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Ipar_adalah_Maut

Mungkin film ini memang agak kontroversi karena menampilkan beberapa adegan mesra dan begitu intens, terlebih ada unsur agama yang diusung. Namun, ada baiknya ketika kita mengambil hal positif lain, seperti amanat pada film! Film ini direkomendasikan untuk usia 13+ dengan pengawasan orang dewasa. Maka bijaklah menilai dan memilih tontonan, ya!

Untuk film ini tayang di bioskop, ingat, mari kita hargai kerja keras mereka dengan tidak menonton film bajakan. Memang sekarang sudah tidak tayang, tetapi mungkin nanti bisa saja ditayangkan di aplikasi berbayar.



Pertama bagaimana official poster ini yang terlihat terkesan tenang, layaknya sebuah keluarga harmonis. Berkebalikan dengan tema yang diusung, yaitu perselingkuhan. Beberapa gambar keluarga yang diabadikan dalam figura terpampang jelas, sebuah keluarga bahagia. Lalu, raut wajah Nisa, pemeran wanita utama yang menampilkan wajah sedih. Sementara di sebelah kanan suaminya ada Rani, dengan tatapan tajam yang lebih seperti menggoda. Hal ini juga dipaparkan dalam sebuah jurnal Nurwanti, Tiara. "The Semiotics Analysis of The Movie Poster" Ipar Adalah Maut"." Journalistics: Journal of English Teaching and Applied Linguistics 4.01 (2024): 20-28.

Menjadi sebuah poin lebih di mata Penulis, apalagi poster yang ditampilkan di bioskop. Ketika tatapan Rani yang memandang iri kepada hubungan kakak kandungnya.


Kemudian pemilihan cast seperti Deva Mahenra yang memiliki beberapa riwayat menjadi aktor dengan sifat baik nan saleh. Seperti dalam film ‘Cinta Laki-laki Biasa’. Michelle Ziudith sebagai istri yang baik, lalu Davina Karamoy sebagai adik ipar yang memesona.

Dalam memilih cast, memang Penulis rasa bahwa Hanung memiliki pandangan yang tepat untuk memberikan peran itu. Didukung dari pengalaman aktor dan aktris, juga penampilan yang mampu menggambarkan sesuai bayangan Penulis.

Latar film berada di kota Semarang, kala itu Rani yang baru saja masuk ke Perguruan Tinggi harus ikut tinggal di rumah kakaknya, Nisa. Atas sebuah pesan titipan ibu mereka, yang justru menjadi awal mula permasalahan dalam hubungan pernikahan Nisa dan Aris.

“Jangan macam-macam di rumah Mbakmu,” pesan yang selalu diwanti-wanti oleh ibunda.

Pasalnya, memang dalam hukum islam, bahwa yang tidak memiliki hubungan mahram sangatlah dilarang untuk berada dalam satu rumah tanpa ada istri sahnya. Bahkan seorang istri atau suami berhak menolak tamu lawan jenis untuk masuk ke rumah tanpa adanya mahram yang mendampingi atau berada dalam rumah tersebut. Hal ini dijelaskan pula pada sebuah jurnal Chovifah, Anisatul, and Muhammad Syaefiddin Suryanto. “Ekstraksi Hadis Nabi Dalam Film Ipar Adalah Maut.” Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 7.3 (2024): 606-623.

Namun, Nisa percaya pada Aris, suaminya, dan Rani bisa menjaga hal-hal buruk.

Penulis tertarik dengan film ini, sebab meski memang terlihat kontroversi karena mereka para cast tidaklah memiliki hubungan sah, atau menimbulkan dosa zina. Tetapi, pada kehidupan bermasyarakat kasus seperti ini banyak terjadi. Bahkan hubungan sedarah juga ada. Maka film ini sebenarnya adalah bentuk ungkapan sekaligus pengingat agar kita mempelajari hukum-hukum islam mengenai hubungan mahram, juga menjaga hubungan.

Seperti pada dialog Nisa, “Namun, tidak ada kejadian kalau itu tidak memberi pelajaran.” Maka, meskipun itu orang yang dekat dengan kita, sekalipun itu keluarga haruslah tetap memiliki batasan untuk menghindari hal-hal seperti ini.

Maka diperlukan pemahaman mengenai siapa saja mahram kita, tetapi alangkah lebih baik selalu mawas diri akan lebih baik. Bantulah jika memang ada hal baik, tetapi selalu ingatlah batasan yang sudah dijelaskan dalam Al-Quran dan hadis. 

Hanung, memilih tiga lokasi sebagai latar tempat shooting, Salatiga sebagai rumah keluarga Nisa. Rumah sederhana dengan lokasi yang terlihat masih asri dengan pedesaan kental akan budaya, tergambar dalam bagian malam Hari Raya, sebuah pawai.

Lalu, Semarang. Rumah kediaman Aris, seorang dosen sosiologi yang kebetulan juga dia mengajar di kelas Rani setelah masa orientasi mahasiswa. Rumahnya sederhana, dengan seorang asisten rumah tangga bernama Mbok Tun, ya, pengambilan sederhana ini memang pas. Karena Aris sibuk dengan kegiatan di kampus, sementara Nisa menjadi pemilik dari toko Legi Roti, toko kue yang dikelolanya bersama sang sahabat.

Nisa menerima kehadiran Rani dengan baik. Pasalnya mungkin dia berpikir, kehidupan di Semarang pada kalangan mahasiswa cukup membuat ibunya khawatir. Apalagi Rani adalah anak bungsu yang terkenal dengan sifat manjanya. Kemudian, dengan kehadiran Rani bisa menjadi teman bermain Raya, anak Nisa dan Aris.

Sebagai wanita karir tentu Nisa banyak menghabiskan waktu di luar rumah, apalagi dengan keadaan toko kuenya yang sedang ramai, bahkan berencana untuk membuka cabang di Yogyakarta.

Dengan harapan bahwa Rani akan jauh dari kegiatan di kampus yang bisa membuatnya salah pergaulan. Bagian ini juga memperlihatkan bagaimana senioritas dan nepotisme masih kental di kampus. Ketika seorang mahasiswa hendak melecehkan Rani, untung Aris datang tepat waktu untuk menolong. Pelakunya adalah keponakan dari rektor tersebut dan memang memiliki beberapa kasus buruk.

Menurut Penulis, bukan hanya kehidupan dalam rumah tangga yang diusung dalam film ini, bukan semata urusan perselingkuhan. Bapak Hanung juga menghadirkan adegan kehidupan kampus, kebudayaan, dan persahabatan.

Film dibawakan dengan santai, tidak melulu tentang romansa. Ketika lawakan khas bapak-bapak mampu mencairkan suasana bioskop saat menonton. Sejenak, ikut tertawa sebelum memaki Aris dan Rani.

Sayangnya, saat itu ada kejadian tidak nyaman. Ketika ada salah satu penonton lain membawa balita untuk menonton film di dalam bioskop. Tentu suara dari film akan mengusik dirinya meskipun dia sudah tidur. Khusus bagian ini, Penulis tentu tidak menyalahkan pembuat film. Mungkin ini bisa menjadi koreksi untuk pihak bioskop agar tidak terjadi hal seperti ini yang dapat mengganggu kenyamanan pengunjung lain.

Menariknya, drama ini bahkan menarik perhatian seorang psikolog. Dalam salah satu unggahan sosial media Hanung, tentang alasan mengapa Rani tega melakukan pengkhianatan terhadap kakak yang telah berbuat baik padanya. Alasannya cukup logis, seorang Rani yang merasa kekurangan kasih sayang ayah karena ditinggalkan saat usianya masih kecil. Membuat dia memiliki luka masa kecil yang dibawa sampai dewasa. Apalagi melihat sosok Aris yang memiliki daya tarik bagi seorang perempuan.

Hal ini memang tidak bisa dibenarkan. Namun, ini hanyalah penjelasan secara medis. Tentu saja Rani tetaplah salah. Dikatakan juga, bahwa Rani kerap mengenakan pakaian terbuka dengan sengaja dalam versi tik tok. Sementara dalam film, tentu dibuat berbeda dan lebih dramatis. Rani digambarkan sebagai gadis ceroboh yang tidak bisa menjaga diri, sementara Aris juga tidak bisa menjaga pandangan yang akhirnya menimbulkan perselingkuhan antara saudara ipar.

Dalam islam perintah untuk menutup aurat bagi wanita dan menundukkan pandangan bagi laki-laki sudah mutlak dijelaskan dalam Al-Quran. Alasannya adalah untuk menghindari zina. Maka dari bagian ini sekaligus mengajarkan kita, mungkin ada yang masih lalai dan belum memahami siapa saja mahram dalam keluarga.

Adegan tegang ketika skandal terjadi, bukan hanya setting tempat, properti saja. Tetapi hal paling penting adalah bagaimana menampilkan adegan ranjang, tanpa melukai atau harus melakukan aksi tersebut. Namun, harus terlihat seperti kejadian yang sesungguhnya.

Davina, pemeran Rani juga menjelaskan bahwa adegan itu memang tidak dilakukan, dengan bimbingan dari sutradara terciptalah adegan panas ini. Beberapa momen saat shooting juga diunggah di instagram resmi Hanung Bramantyo.

Sayangnya, dari beberapa pengamatan, Penulis menemukan hal seperti ini masih tabu. Ada yang beranggapan bahwa kasus seperti ini cukup diketahui oleh korban, dengan korban menceritakan, dianggap sebuah aib. Padahal jika ditelisik lebih dalam ada banyak korban yang memilih diam diperlakukan seperti ini.

Kita tidak usah terlalu fokus pada adegan ranjang tersebut. Namun mengambil hal baik yang selanjutnya disampaikan dalam film tersebut. Padahal ada banyak film yang lebih kontroversi, tapi mungkin memang yang di puncak yang mendapat banyak komen. Tentu saja mereka boleh menyampaikan penilaian.

Penulis hanya membatin. ‘Apa mereka hanya fokus pada beberapa spoiler di sosial media yang berisi adegan panas itu?’

Oh iya, untuk kalian yang masih melakukan hal itu silakan dihapus. Demi kenaikan popularitas kalian mencuri potongan karya orang lain?

Penulis menemukan beberapa bagian yang sangat dalam, seperti dialog pada pernikahan dan saat seorang Qori muda ikut mengisi suara dalam film ini. Momen pertaubatan Aris juga bagaimana dialog Nisa mengenai bagaimana kelak akan mendidik Raya.

Untuk properti, Penulis menilai ini standar pada drama. Dengan ide-ide baru nampak lebih mendalami. Namun, bagian favorit Penulis sendiri adalah, ketika adegan Nisa dengan penuh emosi kemarahan beserta kekecewaan, terlihat begitu natural.

Dalam sebuah unggahan Michelle yang berperan menjadi Nisa mengungkapkan bahwa perlu banyak tenaga untuk mendalami perannya yang berat. Dikatakan juga, saat selesai pengambilan adegan tersebut Nisa masih terbawa api amarah, sampai seorang Deva terkena lemparan buku.

Ada sebuah bagian lain, ketika Nisa bertanya, apakah semua salahnya? Tidak bisa melayani suami. Penulis akan memberikan komentar untuk para wanita karir, terlepas kalian sibuk dengan pekerjaan selama suami memberi izin dan tidak meninggalkan kewajiban kalian maka tidaklah salah kalian. Itu adalah kesalahan pada orang yang tidak setia. Maka bisa dilakukan komunikasi antar suami dan istri mengenai hubungan yang akan menjadikan kenyamanan untuk kedua pihak. 

Audio yang mendukung, Hanung juga membawakan dua penyanyi muda Indonesia untuk mengisi backsound dalam filmnya.

Mytha Lestari dan Lyodra Ginting, dua penyanyi muda dan seorang Qori! Totalitas yang mantap. Tidak heran film ini laris manis.

Teruntuk seluruh tim yang telah bekerja sama untuk menciptakan ide-ide fresh, juga lawakan untuk mencairkan suasana, tim pengisi suara, dan para cast, kalian telah mengusahakan yang terbaik. Saya yakin itu, dan semoga ada gebrakan-gebrakan baru dari Hanung Bramantyo. Sukses untuk tim! 

Layaknya film, yang ditutup dengan lagu yang dinyanyikan oleh Lyodra dan sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Hadis ini juga bersifat Sahih.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Artinya, “Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.’ Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?’ Beliau menjawab, ‘Ipar adalah maut’.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Semoga dari sebuah film yang biasanya menjadi hiburan, mampu memberikan pada kita, khususnya muslimah untuk berhati-hati dalam kehidupan, sebelum mengambil tindakan, keputusan, dan bagi muslim untuk menjaga sebuah tanggungjawab dari keluarga wanita yang telah mengizinkan pernikahan itu. Maka jangan lukai dia, sesungguhnya dia meninggalkan keluarganya untuk melahirkan anakmu kelak. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengulik Kisah Kirani, Wanita dan Kekecewaan

Habibie & Ainun 3, Biografi yang Menarik Perhatian Generasi Muda